Kalau ada bupati yang menyandang gelar profesor alias guru besar, I Gede Winasa-lah orangnya. Bupati bergelar profesor ini boleh jadi satu-satunya yang ada di Bali, bahkan mungkin di Indonesia. Pria bernama lengkap Prof Dr drg I Gede Winasa dilahirkan di Denpasar, Bali, 9 Maret 1950. Ia sebagai Bupati Jembrana periode 2000-2005 dengan berbagai terobosan menarik yang patut diacungi jempol.
Di era otonomi daerah (otoda), ada tiga kunci dari penyelenggaraan otoda yang diusung Prof Dr drg I Gede Winasa. Yaitu, pertama tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang andal, kedua kondisi kesehatan masyarakat yang baik, dan ketiga adalah lingkungan yang mendukung. Apabila ketiga pilar itu, peningkatan SDM yang berarti dunia pendidikan dan derajat kesehatan telah tercapai, maka satu lagi yang harus digarap dan diberikan peluang adalah peningkatan status ekonomi. Dalam hal ini beranjak dari konsep kerakyatan, serta terbukanya peluang usaha secara adil bagi setiap anggota masyarakat, guna pencapaian peningkatan daya beli masyarakat itu sendiri.
Itu sebabnya, prestasi Gede Winasa pun dianggap cukup besar di bidang pengembangan pendidikan di wilayahnya. Pasalnya, 50 persen dana yang masuk dalam APBD diplot unuk biaya pendidikan. Antara lain dalam hal pembangunan fisik gedung sekolah maupun memberi beasiswa kepada anak sekolah berprestasi. Tak pelak, jika akhirnya Winasa mendapat penghargaan pemerintah pusat di bidang pendidikan pada tahun 2001 lalu.“Kami mengadakan Wajib Belajar bukan lagi 9 tahun, tetapi 12 tahun,” kata Winasa saat ditemui Dede Haeruddin dari Majalah GEMARI beberapa waktu lalu di Jembran, Bali. Winasa berharap, dengan Wajib Belajar 12 tahun anak-anak Jembrana bisa mengecap pendidikan lebih tinggi dibanding anak-anak dari daerah lain.
Selain bidang pendidikan, Winasa pun memperhatikan sektor lainnya seperti bidang kesehatan dan sosial masyarakat. Selama kepemimpinannya, ia membebaskan masyarakat yang berobat ke puskesmas. Bukan hanya itu, ia mempunyai ide menggartiskan pula warga saat mengurus KTP. “Ini baru gagasan,” kata Winasa. Paling tidak, di bawah kepemimpinannya itulah Jembrana bangkit karena dipimpin oleh sosok yang memperhatikan masyarakatnya.
Tempaan keras
Siapakah sesungguhnya Prof Dr drg I Gede Winasa? Yang pasti, Winasa kecil sarat dengan tantangan. Ia dibesarkan di sebuah desa bernama Tegalcangkring, kecamatan Mandoyo, Jembrana. Sebuah desa yang banyak menggugah inspirasi hidupnya. Di bawah didikan seorang Ayah yang sangat disiplin, Winasa tumbuh menapaki sejarah hidup. Sebagai anak Pegawai Negeri golongan kecil, tentu saja kehidupan masa kecilnya mengalami berbagai kesulitan.
Winasa termasuk anak semata wayang. Sebagai anak tunggal mestinya ia dimanjakan. Namun kenyataan berbicara lain. Ia menjadi anak tunggal yang tak lepas dari bantingan dan tempaan keras. Uniknya, berbagai tempaan hidupnya tak pernah dirasakan sebagai hukuman. Baginya, berkarya adalah tugas hidup dan disiplin adalah bagian dari jiwa dan terpenting dalam hidup. Letak kedisiplinan sang ayah tak hanya pada cara memanfaatkan waktu juga anggaran. Itulah yang selalu membekas dalam dirinya. Kedisiplinan inilah memotret bahwa ia benar-benar ditempa agar menjadi orang yang mandiri.
Ia pun kemudian melaju meniti waktu. Ia sekolah di SMP di Panyaringan. Di masa inilah ia mulai bersentuhan dengan dunia organisasi massa. Di badannya tak ada teori, apalagi manajemen berorganisasi. Ia hanya tahu, organisasi adalah wahana untuk berkiprah dan menempa diri. Ia menjadi Wakil Ketua Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Komisariat SMP N I Penyaringan. Itu berlangsung dari 1962 hingga 1965. Setelah itu, Winasa remaja sudah mencicipi kehidupan kota, tepatnya kota Negara. Ia sekolah di SMA Negara. Di Negara, ia juga menjadi pengurus GSNI Cabang Jembrana.
Usai menamatkan SMA, Winasa merantau ke Jawa. Mulanya ia bercita-cita menjadi insinyur teknik mesin. Namun, karena waktu itu informasi sangat terbatas, akhirnya “terdampar” di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Surabaya. Anehnya, ketika itu ia tak tahu dokter gigi seperti apa. Dan orang tuanya juga tidak mematok harus masuk sekolah apa, yang penting harus melanjutkan sekolah.
Di kota buaya itu banyak kenangan yang terlukis dalam perjalanan hidup Winasa. Tak seperti umumnya mahasiswa, Winasa tidak melulu memfokuskan diri pada kuliah. Ternyata dia juga sambil bekerja. Selain kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Unair, ia nyambi menjual tiket bus malam. Setiap hari ia parkir di Makam Paneleh, salah satu pusat penjualan tiket bus malam di Surabaya. Pulang kuliah ia langsung masuk ke penjualan tiket dan malamnya baru pulang. Itu terjadi ketika ia duduk di semester III.
Setiap hari ia harus bolak balik ke Makam Paneleh dan mengantarkan bus ke Wonokromo. Tradisi itu ia kembangkan bukan lantaran tidak mendapat biaya dari orang tua. Tak lain, hanya untuk mancari uang tanbahan. Sebab, orang tuanya sangat disiplin dalam masalah anggaran. Toh, pekerjaan menjual tiket tersebut tidak membuatnya minder.
Yang membuatnya minder, ketika awal-awal menapaki kota Surabaya. Waktu itu, teman-teman kuliah Winasa merupakan orang-orang yang berduit. Dari keturunan Tionghoa maupun warga “the have” Surabaya. Sedangkan ia anak desa dari seorang pegawai negeri golongan kecil. Kala itu pula, mahasiswa seangkatannya sudah biasa bawa mobil. Sementara ia sendiri pakai sepeda gayung.
Kebiasaan cukup aneh di kalangan kampus seperti itu tak membuatnya patah semangat. Justru kondisi itu memacunya untuk lebih maju. Tamat dari Fakultas Kedokteran Gigi Unair (1978), Winasa lalu bertugas sebagai dokter gigi di puskesmas Benculuk, Banyuwangi. Pada 1979, ia pindah menjadi dokter gigi di RSU Bangli. Itu berlangsung hingga 1980.
Tahun berikutnya (1981), suami dari Ratna Ani Lestarini menjadi sekretaris Sekolah Pengatur Rawat Gigi, Depkes Bali. Selanjutnya ia ditunjuk menjadi Kasi Evaluasi Kanwil Depkes. Bali (1981-1987). Di tahun-tahun itu, sekitar 1983, Winasa mendirikan Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Mahasaraswati Denpasar. Ia sendiri yang menjadi Dekan Fakultas tersebut, sekaligus menjadi dosen pertama.
Seirama dengan kesibukannya, ayah empat anak ini menjadi guru besar di fakultas tersebut. Ia merupakan guru besar pertama di Universitas Mahasaraswati (Unmas). SK pengangkatannya sebagai guru besar terhitung sejak 1 Oktober 2000 lalu. Gelar itu baru diperkenalkan pada 27 Januari 2001 dalam rapat senat terbuka Unmas. Orasi ilmiahnya ketika itu berjudul “Pengaruh Gigi Tiruan Lengkap (GTL) Terhadap Kejadian Denture Stomatitis pada Masyarakat Usia Lanjut”.
Sumber : Gemari Online, Laporan : Dede Chaeruddin