<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dukungan Komunitas untuk Prof. I Gede Winasa menjadi Gubernur Bali 2008-2013 &#187; wawancara</title>
	<atom:link href="http://voteforwinasa.wordpress.com/category/wawancara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://voteforwinasa.wordpress.com</link>
	<description>Pilkada Bali</description>
	<lastBuildDate>Sun, 09 Mar 2008 20:05:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='voteforwinasa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/771dd8e49d4b7aae0e243c700a035e54?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dukungan Komunitas untuk Prof. I Gede Winasa menjadi Gubernur Bali 2008-2013 &#187; wawancara</title>
		<link>http://voteforwinasa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://voteforwinasa.wordpress.com/osd.xml" title="Dukungan Komunitas untuk Prof. I Gede Winasa menjadi Gubernur Bali 2008-2013" />
		<item>
		<title>Wawancara majalah Indonesia dengan Prof. Gede Winasa</title>
		<link>http://voteforwinasa.wordpress.com/2008/02/25/wawancara-majalah-e-indonesia-dengan-prof-gede-winasa/</link>
		<comments>http://voteforwinasa.wordpress.com/2008/02/25/wawancara-majalah-e-indonesia-dengan-prof-gede-winasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 02:28:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dk1ms</dc:creator>
				<category><![CDATA[wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[calon gubernur bali]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada bali]]></category>
		<category><![CDATA[winasa pilkada bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://voteforwinasa.wordpress.com/2008/02/25/wawancara-majalah-e-indonesia-dengan-prof-gede-winasa/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah                  tinggal di Jepang untuk menimba ilmu di Universitas Hiroshima                  dan Universitas Tokushim memberi banyak pengalaman bagi I Gede   [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=voteforwinasa.wordpress.com&blog=2953621&post=19&subd=voteforwinasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font color="#990000"><font color="#006633"><span class="texbody"><font color="#0033cc"><font color="#000099">Pernah                  tinggal di Jepang untuk menimba ilmu di Universitas Hiroshima                  dan Universitas Tokushim memberi banyak pengalaman bagi I Gede                  Winasa. Siapa kira, bekal pengalaman tersebut ternyata sangat                  bermanfaat bagi Winasa ketika ia di-dapuk menjadi Bupati Jembrana                  pada 2000. Salah-satu yang bisa ia tiru dari negeri Sakura adalah,                  implementasi teknologi informasi yang boleh dibilang maju cepat.                  “Begitu sampai di Jepang pada 1988, saya langsung diberi                  ATM. Saya kaget karena belum familiar. Apalagi di Indonesia hingga                  saya balik pada 1990, ATM belum banyak digunakan,” kenangnya.</font></font></span></font></font></p>
<p><font color="#990000"><font color="#006633"><font color="#0033cc"><font color="#000099">Praktis, wacana pria kelahiran 9 Maret 1950 ini terhadap Teknologi                  Informasi (TI) tidak perlu diragukan lagi. Meski ia mengaku, “Saya                  itu tidak paham TI secara teknis.” Yang penting bagi suami                  Ratna Ani Lestari ini, ia paham bagaimana memanfaatkan TI. Pemaknaan                  seperti inilah yang ia terapkan selama menahkodai kabupaten yang                  terletak di ujung barat Bali ini. Pendeknya, ia memanfaatkan betul                  TI untuk mendukung kinerjanya dan memajukan kabupaten dengan jumlah                  penduduk sekitar 258 ribu jiwa ini (data 2005). Selain itu, berbagai                  terobosan yang ia geber mampu mengangkat nama Jembrana di kancah                  nasional. Di bawah kepemimpinannya, warga Bumi Makepung ini bisa                  mendapatkan fasilitas kesehatan dan pendidikan gratis. Karenanya,                  jangan heran bila Jembrana acapkali menerima berbagai tamu yang                  ingin melakukan studi banding. Tercatat tak kurang 400 instansi                  pemerintah baik departemen, provinsi, maupun kabupaten bertandang                  ke Jembrana. Pun dengan redaksi e-Indonesia. Andy Zoeltom dan                  Faizah Rozy sengaja menemui ayah empat anak ini di Jembrana belum                  lama ini. Dalam perbincangan selama hampir dua jam itu, Winasa                  menuturkan banyak hal, termasuk bagaimana ia memimpin Jembrana                  dan menggunakan TI untuk mendukung tugasnya. Berikut nukilannya                  perbincangan mereka.</font></font><b></b></font></font></p>
<p><span class="texbody"><font color="#333333"><font color="#666666"><b><font color="#000000">Sejauh                  mana perkembangan e-government di Jembrana?</font></b><br />
<font color="#333333">Untuk e-government kami bekerja sama dengan                  BPPT. Itu terjadi sejak 2001, tepatnya setelah saya menjabat sebagai                  bupati selama satu tahun. Kebetulan waktu itu, beberapa teman                  saya menjadi pegawai BPPT. Selanjutnya kami di sini dikenalkan                  komputer untuk mendukung kinerja Pemda. Selain itu, kerja sama                  dengan BPPT juga mencakup pelatihan SDM, program, dan pembuatan                  software.</font></font></font></span></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b>Bisa cerita apa yang sudah dilakukan                  dengan BPPT?</b></font><br />
<font color="#333333">Begini, waktu itu ceritanya, saya curhat                  tentang tugas-tugas saya sebagai bupati dengan teman yang bekerja                  di BPPT. Akhirnya, teman tersebut – tentu melalui BPPT –                  membantu kami dengan melakukan sosialisasi penggunaan TI. Selanjutnya                  pada 2001 di tingkat kecamatan, ditempatkan satu komputer. Proyek                  ini kemudian berkembang. Kami juga memiliki telepon rakyat tanpa                  pulsa. Dulu sebelum ada seluler, kan susah cari sambungan telepon.                  Kemudian muncul ide mendistribusikan sambungan yang cuma satu.                  Lalu kami gandakan dengan PABX besar, dan didistribusikan ke penduduk                  sampai ke tiga desa. Satu PABX saja bisa 500 line.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b>Di sini apa nama lembaga yang mengurusi                  e-government?</b></font><br />
<font color="#333333">Kalau di daerah lain ada dinas Infokom atau                  KPDE, di Jembrana namanya Inforyanum yang mencakup informasi,                  komunikasi, dan pelayanan umum. Mengapa kami menggabungkan seperti                  itu, ada alasannya. Begitu menjabat, kami lakukan evaluasi struktur                  organisasi dan ada skor beban tugas. Dari skor beban tugas tersebut,                  kami kelompokkan yang sejenis. Jadi kalau informasi, komunikasi                  dan pelayanan umum masih dalam ruang lingkup, begitu juga perhubungan.                  Dan penggabungan ini tidak ada persoalan. Orang berpikir organisasi                  itu harga mati padahal menurut saya, kalau enggak banyak beban                  kerjanya, bisa diciutkan.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b><img src="http://www.majalaheindonesia.com/images/Bupati_Jembrana2.jpg" align="left" height="192" hspace="0" vspace="0" width="255" />Saat                  ini aplikasi yang sudah online apa saja?</b></font><br />
<font color="#333333">Hampir semua sistem sudah online antara                  lain Sim-pegda, rumah sakit, JKJ (Jaminan Kesehatan Jembrana)                  online. Ambil contoh, masyarakat yang ingin berobat, bisa membawa                  card khusus ini (sambil menunjukkan kartu mirip ATM yang diambil                  Winasa dari dompet di saku celananya, Red.), dan dokter langsung                  bisa melihat medical record yang bersangkutan melalui kartu tersebut.                  Para dokter ini menjalin kerja sama dengan JKJ dan fasilitas kesehatan                  ini diberikan secara gratis.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><b><font color="#000000">Sejauh mana sistem online digunakan                  untuk bidang kesehatan?</font></b><br />
<font color="#333333">Ada lima Puskesmas yang tersebar di empat                  kecamatan dan semuanya sudah online. Sebagai gambaran, rasio dokter                  di sini paling tinggi di seluruh Indonesia. Perban-dingannya 3.000                  penduduk satu dokter, sementara Indonesia masih 10.000 penduduk                  untuk satu dokter. Di sini, dalam satu desa terdapat 2 dokter.                  Semua penduduk mempunyai kartu jaminan kesehatan, segala usia                  dan semua terdatabase di JKJ.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b>Bagaimana ceritanya sampai terpikirkan                  menggunakan TI untuk kesehatan?</b></font><br />
<font color="#333333">Dulu kalau berobat orang pakai kartu biasa,                  kemudian diobati oleh dokter. Semua proses administrasi dilakukan                  secara manual dengan tulisan tangan. Dari situ saya berpikir kenapa                  dokternya tidak menggunakan komputer. Nah, di sini, kami menggunakan                  model asuransi yang dikelola oleh JKJ. Selanjutnya                  asuransi menunjuk sejumlah dokter sebagai pelaksana pelayanan                  kepada masyarakat. Nah kami kemudian membuat aturan, untuk menjadi                  dokter yang terikat kerja sama dengan JKJ, sang dokter harus memiliki                  komputer. Dengan komputer, mereka bisa input data pasien. Ada                  sekitar 70 komputer, dan idealnya satu dokter satu komputer. Target                  saya pada 2006 ini, dokter yang masuk link asuransi semua memiliki                  komputer. Yang terjadi sekarang, mereka sudah mempunyai komputer                  tapi belum bisa online semuanya. Kendalanya, soal jaringan telepon.                  Akhirnya disketnya yang dibawa ke JKJ. Harapan saya semuanya bisa                  online. Perlu saya tambahkan, kami sudah memiliki sistem untuk                  verifikasi. Jadi kalau standar terapinya salah, secara otomatis                  ditolak oleh sistem komputer.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b>Bicara soal infrastruktur, fasilitas                  yang ada di gedung Pemkab apa saja?</b></font><br />
<font color="#333333">Hampir tiap ruangan ada CCTV. Di kantor                  Bupati ini ada 32 CCTV. Di Gilimanuk ada 9 CCTV, dan ada scan                  setiap penduduk yang masuk. Di sini yang masuk ke wilayah kami,                  KTP nya di scan. Semua dinas ada di sini dan semuanya ter-connecting.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b>Mengenai penyelenggaraan layanan                  perizinan bagaimana?</b></font><br />
<font color="#333333">Kalau yang lain menggunakan konsep perizinan                  satu atap, kami satu loket. Dengan satu loket, kami sudah bisa                  memproses 50 izin dengan 7 akte dan KTP. Jadi, pemohon tidak perlu                  pergi ke loket lain, cukup                  melakukan verifikasi di satu meja saja. Yang jelas, tidak ada                  kontak person antara penye-lenggara izin dan pemohon sama sekali.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b>Bagaimana prosedur untuk mengajukan                  permohonan?</b></font><br />
<font color="#333333">Untuk mengurus perizinan harus memasukkan                  berkas lengkap. Untuk dinyatakan lengkap, ada verifikasi dari                  petugas front office. Jika sudah lengkap, baru pemohon memasukkan                  berkas tadi ke loket yang berbentuk kotak. Di sini, pemohon cukup                  menekan tombol, kotak langsung terbuka. Selanjutnya untuk menutup                  kotak, tombol ditekan kembali.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b>Bagaimana dengan standar waktu penyelesaian                  perizinan?</b></font><br />
<font color="#333333">Kami menerapkan standar waktu. Rencananya                  bisa dilihat di information center, apakah sudah selesai atau                  belum. Sedang untuk pembayaran dilakukan sewaktu verifikasi di                  loket pembayaran.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#333333"><font color="#000000"><b> Lantas bagaimana melakukan sosialisasi                  mengenai informasi perizinan?</b></font><br />
Semua informasi perizinan bisa dilihat cukup dengan touch screen.                  Saat ini touch screen ada di kantor Pemkab. Rencananya touch screen                  akan dipasang di seluruh kecamatan. Biar masyarakat lebih banyak                  tahu dan mengerti. Dari touch screen, bisa diakses ke website                  atau fasilitas lainnya. Kalau bisa nantinya menjadi semacam Sistem                  Informasi Manajemen Daerah (SIMD). Kehadiran TI memang harus membuat                  semuanya lebih efisien dan akuntabel.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b>Bagaimana mempersiapkan SDM agar                  paham TI?</b></font><br />
<font color="#333333">Untuk PNS golongan II saya suruh kursus                  komputer. Ini sudah berlangsung beberapa kali angkatan. Untuk                  profesionalisme pegawai, kami juga terapkan sistem reward berupa                  insentif uang. Aktifitas yang diapresiasi misalkan, sespri. Selain                  gaji, mereka mendapat tunjangan lain sekitar Rp 200 ribu ditambah                  insentif Rp 200 ribu. Pemberian insentif tergantung profesinya.</font></font></font></p>
<p><font color="#333333"><font color="#666666"><font color="#000000"><b>Dengan makin memaksimalkan TI, sudah                  terlihat efisiensi dari sisi SDM?</b></font><br />
<font color="#333333">Saya tidak pernah mengangkat pegawai hampir                  enam tahun, sejak saya menjabat sebagai bupati. Baru pada tahun                  ini saya menerima sekitar 170-an orang pegawai. Untuk penerimaan                  pegawai tahun ini, saya mengambil orang TI sebanyak 14 orang dengan                  level S1 dan 3 orang level D3. Tugas mereka me-maintenance program                  baik hardware maupun software. Saya yakin ke depan, kami akan                  lebih canggih. Sejalan dengan itu, kami ingin lebih banyak menggunakan                  TI untuk mendukung pelayanan publik&#8230;&#8230;&#8230;.</font></font></font></p>
<p>Sumber : Majalah Indonesia Online</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/voteforwinasa.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/voteforwinasa.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/voteforwinasa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/voteforwinasa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/voteforwinasa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/voteforwinasa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/voteforwinasa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/voteforwinasa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/voteforwinasa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/voteforwinasa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/voteforwinasa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/voteforwinasa.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=voteforwinasa.wordpress.com&blog=2953621&post=19&subd=voteforwinasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://voteforwinasa.wordpress.com/2008/02/25/wawancara-majalah-e-indonesia-dengan-prof-gede-winasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89c0d85a7b180940e728e9c3e6a6cde5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dk1ms</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.majalaheindonesia.com/images/Bupati_Jembrana2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara Exclusive Dimas Nugraha dengan Bapak Gede Winasa</title>
		<link>http://voteforwinasa.wordpress.com/2008/02/24/wawancara-exclusive-pak-gede-winasa-dengan-dimas-nugraha/</link>
		<comments>http://voteforwinasa.wordpress.com/2008/02/24/wawancara-exclusive-pak-gede-winasa-dengan-dimas-nugraha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 23:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dk1ms</dc:creator>
				<category><![CDATA[wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan gratis bali]]></category>
		<category><![CDATA[winasa gubernur bali]]></category>
		<category><![CDATA[winasa pendidikan gratis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://voteforwinasa.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[” Asal Konsisten, Pasti Bisa…”  
Pendidikan di Jembrana gratis. Bagaimana ceritanya? 
Logikanya sederhana. Sekolah kan sudah disiapkan pemerintah, ada anggarannya. Guru sudah dibayar sebagai PNS, operasional dikasih Pemda, terus dasarnya membayar itu apa? Di Indonesia itu aneh bin ajaib, misal BOS SD sudah Rp.19.500. Dulu sebelum ada BOS, anak SD itu hanya bayar Rp.10.000. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=voteforwinasa.wordpress.com&blog=2953621&post=5&subd=voteforwinasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>” Asal Konsisten, Pasti Bisa…”  </b></p>
<p><i><b>Pendidikan di Jembrana gratis. Bagaimana ceritanya? </b></i></p>
<p>Logikanya sederhana. Sekolah kan sudah disiapkan pemerintah, ada anggarannya. Guru sudah dibayar sebagai PNS, operasional dikasih Pemda, terus dasarnya membayar itu apa? Di Indonesia itu aneh bin ajaib, misal BOS SD sudah Rp.19.500. Dulu sebelum ada BOS, anak SD itu hanya bayar Rp.10.000. Kan logikanya lebih dananya. Anak-anak sudah tidak usah bayar. Lho kok mau ditarik lagi, buat apa?</p>
<p><i><b>Jadi seharusnya memang bisa gratis? </b></i></p>
<p>Tentu. Pemerintah kan punya tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Jangan cuma jadi slogan saja. Ini kewajiban. Dan pendidikan itu hak masyarakat yang harus dipenuhi. Untuk mencerdaskan kan perlu akses.</p>
<p>Nah itu yang kita buka seluas-luasnya, kami coba buka akses agar setiap orang bisa mendapatkan pendidikan dengan mudah. Jangan pernah berpikir sistem subsidi silang di pendidikan. Kaya miskin itu bukan urusan sekolah, itu urusan pajak. Biar mereka yang urus. Ini pendidikan, hak setiap warga negara, tak peduli kaya atau miskin. Pemerintah harus berikan hak mereka. Untuk apa dipampangkan di UU, untuk apa pula harus dianggarankan 20%.</p>
<p><i><b>Bagaimana memulainya?</b></i></p>
<p>Sederhana sekali, saya hanya minta dihitung berapa jumlah dan total biaya anak sekolah. Setelah dihitung ternyata cuma Rp.2,5miliar. Kami punya uang segitu. Kan ada dana dekon dari provinsi dan pemerintah pusat. Kemudian saya lakukan efisiensi.</p>
<p>Saya inventarisasi, sekolah yang tidak efektif saya regrouping dengan sekolah sebelahnya. Karena satu sekolah itu biayanya mahal, Rp.150 juta. Ada 22 SD yang tidak efisien, saya regrouping. Dan itu bisa menghemat sampai Rp.3 miliar. Padahal saya butuh cuma Rp.2,5 miliar. Sudah lebih dari cukup untuk menggratiskan seluruh warga saya.</p>
<p><i><b>Tantangan terberat?</b></i></p>
<p>Yang luar biasa ada pada guru. Alasannya macam-macam. Saya sudah bilang, jangan takut, saya ganti uang kalian (uang sekolah dari murid-red). Apa bedanya murid bayar Rp.5000 dengan Pemda yang bayari. Pendidikan tetap bayar, tapi yang bayar Pemda. Disubsidi pemerintah.</p>
<p>Ada lagi alasannya, “Kalau ada biaya dadakan, bagaimana?” Saya katakan, kalau tidak bisa mengantisipasi itu berarti kalian tidak bisa merencanakan RAPBS. Ya, akhirnya ketahuan, ujung-ujungnya ceperan guru ke mana?</p>
<p>Ya sudah, kalau begitu kita kasih insentif kepada guru. Awalnya hanya Rp.1.250 perjam. Baru mereka bergairah mengajar. Saat ini kami sudah bisa berikan Rp.7.500 perjam. Tinggal ngitung tambahannya, di luar gaji mereka dan tunjangan fungsional. Guru di Jembrana sekarang rata-rata di atas Rp.2 juta. Ya, untuk standar kehidupan di Jembrana kan cukup.</p>
<p>Meningkatkan motivasi ini sederhana sekali. Masyarakat kita ini kan pragmatis, coba naikkan gajinya, susun dengan perencanaan, kemudian disiplin. Macam-macam, sikat. Ya kita adil juga. Yang bagus kita kasih reward. Guru berkualitas, kirim ke luar negeri.</p>
<p><i><b>Tahapan?</b></i></p>
<p>Kita lihat masalahnya, kemudian tekan pada anggaran dengan melakukan efisiensi. Uang segini bisa dipakai apa. Sekarang terbalik, BOS nya muncul, baru dibuat cara ngabisinnya. Saya balik, dia kebutuhannya apa, baru kita kasih duit. Kemudian efisiensi anggaran.</p>
<p>Di Jembrana, dana DAK untuk 40 sekolah, bisa buat bangun 82 sekolah, itupun ditambah dengan Jimbarwana Net. Dua kali lipat plus jaringan internet. Bangunannya pun standar besi jaringan semua. Intinya efisiensi dengan adanya pengawasan sistem. Bagaimana uang itu keluarnya efektif, bagaimana ada manfaat dan hasil.</p>
<p>Kemudian organisasi kecil dengan fungsi yang besar. Bagaimana SDM dapat termanfaatkan sesuai dengan kompetensinya. Saya punya manajemen DOA, bagaimana memenej Dana, Orang, dan Aset harus efisien. Itu kan kunci dari manajemen pemerintahan.<br />
<i><b><br />
Mengapa daerah lain belum bisa seperti Jembrana?</b></i></p>
<p>Komitmennya harus ada. Selain itu juga harus transparan. Jangan pilih bulu, jangan tebang pilih. Di sini guru berani narik uang ke murid, ndak sampai seminggu saya copot. Saya pikir, semua daerah bisa seperti Jembrana, wong ada BOS kok. Tidak ada alasan gak bisa, uangnya sama.Kami coba mengurai dengan hal yang riil.</p>
<p>Pendidikan itu apa, indikatornya. Banyak yang tidak bisa menerjemahkan menjadi hal-hal yang bisa terukur. Riil dan punya standar indikator jelas. Menurut kami keadilan sama dengan pemerataan pelayanan publik. Dalam hal ini pendidikan adalah pemerataan akses. Dengan otonomi daerah, perannya justru terbuka. Tapi yang sering terjadi kesulitan kan bingung di dan dari mana memulainya.</p>
<p><i><b>Anda banyak di PTUN kan karena langkah-langkah tersebut?</b></i></p>
<p>Ah sudah banyak saya di PTUN kan. Ndak usah kaku lah, bupati dituntut itu sudah biasa. Berani menyatakan yang benar, itu benar. Kalau benar, kenapa takut.</p>
<p><i><b> Sampai tahapan apa mau ditingkatkan pendidikan Jembrana?</b></i></p>
<p>Secara reguler kami mencoba untuk mencerdaskan orang Jembrana. Tapi kan tidak bisa berhenti sampai tingkat SMU. Ini kan dinamika terus. Bagaimana bisa berkompetisi secara regional dan global. Ini akan saya tingkatkan terus.</p>
<p>Saat ini saya masih fokus, bagaimana memberikan pendidikan merata kepada masyarakat. Masalah dasar selesai, sekarang tinggal berkembang peningkatan kualitas, insentif guru, pola bantuan, makan siang gratis, bus sekolah, ya tinggal terus dikembangkan.</p>
<p>Sebenarnya BOS sudah berlebih, terus kalau dibantu Pemda lagi, wah saya pikir kualitas pendidikan Indonesia itu akan luar biasa. Gak cuma sekadar gratis saja, kualitas tinggi malahan. ***(dimas@bipnewsroom.info)</p>
<p>Sumber :  http://dimasnugraha.wordpress.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/voteforwinasa.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/voteforwinasa.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/voteforwinasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/voteforwinasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/voteforwinasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/voteforwinasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/voteforwinasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/voteforwinasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/voteforwinasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/voteforwinasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/voteforwinasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/voteforwinasa.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=voteforwinasa.wordpress.com&blog=2953621&post=5&subd=voteforwinasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://voteforwinasa.wordpress.com/2008/02/24/wawancara-exclusive-pak-gede-winasa-dengan-dimas-nugraha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89c0d85a7b180940e728e9c3e6a6cde5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dk1ms</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>